Diskusi 1 : “Kekurangan CLS Knights di Musim Lalu” (Part 2)

Memiliki skill (teknik bermain) bagus dan di tunjang dengan fisik yang kuat tidak lah ada artinya tanpa di lengkapi dengan Mental yang tangguh.  Faktor mental menjadi sangat berarti, karena tanpa memiliki mental tangguh : kemampuan/skill yang di miliki oleh masing-masing individu tidak akan nampak/muncul.

Contohnya : Seorang Shooter, memiliki kemampuan tembakan-tembakan jarak jauh yang tajam.  Dalam sesi latihan, dia selalu menunjukan kapasitasnya sebagai seorang shooter yang tajam, berkali-kali melesatkan points dari area 3points, dsb.  Akan tetapi,  di setiap pertandingan yang di lalui kemampuan itu sama sekali tidak Nampak atau bisa di katakan.  Problem inilah yang di dasari dengan kebutuhan Mental.

Faktor mental erat kaitannya dengan beberapa hal teknis.  Bukan hanya kemampuan saja, tapi bisa berdasarkan karakteristik di setiap rintangan yang akan di lalui.  CLS Knights Surabaya, memiliki beberapa problem mendasar dalam penampilannya di musim lalu NBL Indonesia.  Kaitan-nya dengan Faktor Mental.

2.   Mental Petarung, Mental Juara,  dan Mental Pemimpin (Leader) masih perlu di Asah.

Mental Petarung dari CLS Knights sebenarnya telah meningkat dari tahun ke tahun.  Mental petarung dalam artian yang lebih ringan adalah Nyali dan keberanian dalam menghadapi lawan.  Semenjak CLS Knights di latih oleh Coach W. Amran, terlihat mental petarung dari para pemain meningkat sangat signifikan.  Anak-anak muda seperti Sandy, Wijaya, Dimaz beberapa kali menunjukan mental petarung  ketika berhadapan dengan pemain yang jauh lebih pengalaman.

Salah satu yang menjadi problem adalah keberanian para pemain ketika mereka di tekan oleh dalam lewat fisik.  Ketika di sakiti, ketika di lukai, para pemain CLS Knights terkesan diam saja.  Aura Bengis atau pembunuh itu lah sebenarnya sangat berguna untuk melawan musuh-musuh yang jauh lebih berpengalaman.

Bukan maksud bermain dengan kasar, basket adalah permainan laki-laki sangat terbiasa dengan benturan-benturan keras.  Percaya atau tidak, Mental petarung dari punggawa CLS Knights masih kalah dengan tim-tim kuat asal Jakarta.  Mayoritas (tidak semua) para pemain CLSK lebih terkesan sebagai seorang anak baik-baik di dalam lapangan.  Ketika di kasari mereka hanya diam saja, ketika di sakiti mereka tidak berani melawan atau membalas.  Ingat di dalam lapangan musuh tetaplah musuh, di luar lapangan kalian tetap keluarga.  Seluruh masalah di dalam lapangan selesaikanlah di dalam lapangan.  Itu nama-nya Petarung Sejati.

Mental Juara muncul dalam diri para pemain lewat 2(dua) faktor penentu.  Pertama, kemauan dan kerja keras dalam diri masing-masing pemain.  Kedua, pencapaiaan atau pengalaman.  CLS Knights berhasil mengukir prestasi gemirlang di NBL Indonesia musim lalu.  Saat Pre-season, CLS Knights berhasil mencapai Runner-up atau juara 2, begitu juga pencapaian  di NBL regular season 2010-2011.

Pelan-pelan, mental juara dari tiap-tiap pemain CLS Knights  muncul dengan pengalaman yang mereka jalanin semasa bermain.  CLS Knights tim yang di isi dengan mayoritas pemain-pemain muda yang baru berlaga di level Profesional pada tahun 2008.  3 (tiga) tahun termasuk jangka waktu yang cepat untuk menimbulkan mental juara di diri para pemain muda.

Faktor mental Juara ini berbicara dalam partai final NBL Indonesia musim lalu.  Berhadapan dengan tim kuat asal Jakarta Satria Muda, para Punggawa CLS Knights telihat terlalu silau dengan kehebatan, kekuatan dari Satria Muda.  Permainan CLS Knights tidak bisa berkembang saat di tekan, tidak tenang saat tertinggal, instruksi tim pelatih tidak berjalan dengan baik,  hilang konsentrasi, dsb.  Dimana pada akhirnya,  kekalahan di partai puncak itu lebih di karenakan oleh diri sendiri.  Inilah indikasi perlunya Mental Juara dalam diri pemain.

Para pemain harus di biasakan dari hal-hal kecil saat latihan, saat pertandingan, bahkan saat mereka melakukan aktifitas-aktifitas di luar bola basket.  Mental Juara harus di tanam-kan sejak dini.  Mental juara akan berkembang dengan dukungan pengalaman-pengalaman yang di jalani.

Pemimpin (Leader di dalam Lapangan), hendaknya merupakan seorang pemain yang memiliki pengalaman dan jam terbang lebih di bandingkan dengan para pemain lainnya.  Faktor pemimpin inilah yang akan menjadi penentu disaat-saat kritis.  Mempertahankan Momentum keunggulan ; menaikan mental rekan-rekan di dalam lapangan ; mematahkan momentum lawan ; menjaga permainan tim ; dan lain-lainya.

CLS Knights sendiri masih belum memiliki pemain yang tergolong sebagai seorang Leader dalam tim.  Dalam beberapa kesempatan, tampak beberapa pemain yang berperan sebagai leader dalam tim seperti Dimaz, Indrajaya, dan Febri.  Sayangnya, para pemain itu masih belum cukup konsisten berperan sebagai leader(pemimpin).

(Bersambung………..)

Posted on April 30, 2011, in From Fans and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. yg saya tau PJE punya prinsip “sebelum dihantam kita hantam mereka duluan” dan beberapa kali mereka sukses ngalahin SMB.
    mungkin di event LALWC, CLS bisa nerapin prinsip ini. nggak ada salahnya kan nyoba?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: